Celah Teduh

Who you are


“Kita tidak pernah memahami siapapun terkecuali diri sendiri”

Sore itu cahaya matahari menyorot, menembus sela-sela gedung. Hamparannya mengenai Sebagian kulit, ditemani alunan musik yang melantun melalui kedua earpods yang dikenakan oleh Rosalina. Seketika bus datang menghampiri, dan ia berjalan perlahan menaiki bus tersebut. Dia menuju sisi belakang bus tepat di jajaran kursi nomor tiga. Duduk di samping pria yang sedang tertidur yang tampak cukup kelelahan.

Bus melaju perlahan meninggalkan keramaian serta kebisingan kelakson berganti dengan suara gemerisik debu yang menabrak kaca. Rosalina pun melepas kedua earpods-nya, merapihkannya dan menaruhnya ke dalam tasnya. “Kenapa dilepas?” suara mengalun dari sebelah kanan Rosalina tepat keluar dari mulut pria yang duduk di sampingnya yang sedang mengusap muka. “Tidak apa-apa, sudah jadi kebiasaan kalau sudah sampai di sini pasti ku lepas” senyum tipis melambai pada pria tersebut.

Matahari perlahan mulai terlahap, cahayanya perlahan mulai menghilang, yang tersisa hanya gelapnya malam beserta alunan music dangdut yang disajikan dari sound yang tertanam pada bus. Pria yang duduk di samping Rosalina terus memandang jendela bus dan mulai bertutur “Sepertinya kita menuju rute yang sama, liburan atau pulang kampung?” sambal menolehkan mukanya ke pandangan Rosalina. Dahinya mengkerut matanya menunjukan keheranan “Maaf apakah kita saling kenal, atau pernah bertemu sebelumnya?” ucap Rosalinan sambal memandang pria tersebut.

Senyum tipis, mata yang sedikit tertutup diberikan pria itu kepada Rosalina sambal berucap “maaf jika membuat tidak nyaman, sepertinya kita sebentar lagi akan saling mengenal.

Aku Elnino” ucap pria disamping Rosalina.

Elnino? Sepertinya aku pernah mendengarnya, bukankah itu badai ?” balasan dari rosalina yang tampak seperti sangat berusaha menahan tawa agar tidak keluar dari mulutnya.

Jarang sekali aku mendapat respon seperti ini, ketika seseorang mendengar namaku” Rosalina menjawab dengan cepat “maaf bukan maksud apa-apa ko”.

Elnino mengulurkan coklat dari tangannya, yang ia keluarkan dari dalam tasnya sambal berucap “Santai saja, pergi berlibur sendiri ?”.

Rosalina langsung menatap Elnino “kenapa bisa menyimpulkan aku mau pergi berlibur ?”.

Mengangkat kedua bahunya “entahlah cuman intuisi saja, dan kau pasti menggunakan cincin di jari manis mu” sambil melihat jari Rosalina.

Haha sayang sekali intuisi mu kali ini salah” Rosalina menunjukan kedua jari manisnya “iya aku pergi berlibur sendiri, lalu kamu sendiri bagaimana ?” sambil menyodorkan potongan coklat yang diberikan Elnino kepadanya.

Elnino mengambil coklatnya, dan dimakan dengan perlahan “Entah lah ini bisa dibilang liburan atau bukan, tapi aku hanya mencari susana baru saja”. Laju bus mulai terguncang

Perlahan.

Aku pun hanya ingin menemui seseorang saja, ya sekalian ada suatu tempat yang ingin ku tuju” balasan dari Rosalina.

Butir hujan mulai menabrak bus secara perlahan sampai akhirnya membasahi keseluruhan bus. Rosalina mengeluarkan buku catatannya. “Apakah kau akan menulis pertemuan kita di bus ini?” ujar Elnino sambil menyodorkan pulpen kepada Rosalina.

Rosalina tertawa dan berkata “buat pertemuan kita berkesan, mungkin akan ku tuliskan di buku catatanku”. Elnino memberikan smartphone-nya kepada Rosalina. “Maksudnya ?” Ucap Rosalina kebingungan, Elnino tersenyum

aku ingin meminta tolong carikan instagrammu”.

Rosalina pun tertawa “tinggal bilang aja si minta ignya, kenapa berbelit-belit” ucapnya secara perlahan, sambil mengembalikan smartphone kepada Elnino.

Rosalina Amerta, pantas kamu suka menulis” ucap Elnino sambil memandang matanya Rosalina.

Rosalina memalingkan pandangan dan berucap “apa hubungannya dengan nama ?

Memang tidak berhubungan, tapi itu sedikit menggambarkan kau secara tidak sadar mengupayakan nama mu

Maksudmu ?” Balas rosalina sambil mengerutkan dahi.

Ya Rosalani Amerta, namamu itu memiliki makna. Bisa dikatakan berarti abadi, atau abadi lah hal-hal baik, melihat dari buku catatan yang kau keluarkan dan menentukan membuka lembar halaman tengah, dan kondisinya seperti belum lama kau miliki, mungkin buku catatan mu yang dulu sudah penuh, dan ini merupakan buku baru yang sudah setengah ter isi. Itu sebabnya kau senang menulis hal-hal istimewa yang kau lewati yang sudah pasti itu adalah hal baik. Dan kenapa kau menulis itu semua karna kau ingin hidup abadi di tulisan mu, seperti nama belakang mu yang memiliki arti abadi”.

Seketika Rosalina memandang Elnino “Menarik, kalau seperti itu kau itu seseorang yang mengerikan yang membawa malapetaka atau bencana karna kau bernama elnino ?

Elnino tertawa sambil merapikan barang-barangnya, “Itu tergantung dari seseorang memandang elnino itu sendiri seperti apa, karna itu hanya sebuah fenomena saja

Sambil memandang jendela bus Elnino kembali berucap “mungkin kita akan berpisah”.

Tak lama bus berhenti, Rosalina menyampingkan kakinya agar Elnino bisa melangkah. Sambil melewati Rosalina, Elnino memandangnya sambil tersenyum dan mengucapkan dengan nada rendah

Kita akan bertemu lagi, selamat karna sudah melewati malapetaka”.

-Adilah Rahman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top