Celah Teduh

Tiga surat untuk Kenang

1;

Kenang, aku Arum.

Akan ada tiga lipatan surat yang sedang menuju mu. Dibalik tulisan-tulisan ku yang rumit, dan setiap malam dalam seminggu ini mempertanyakan keadaanku, aku tetap menulis banyak kata untukmu. Mungkin kamu akan malas membacanya, namun sesingkat-singkatnya suratku, ia akan terbaca dalam bentuk rindu.

Kenang, biar aku menebak-nebak sedang apa kamu saat ini.

Saat kegiatan yang produktif menggelapkan matamu, menyingkirkan seluruh perasaan mu padaku. Memilih untuk berkutat pada apa-apa yang membuatmu lelah dan sulit tidur, aku masih terjaga, berharap kamu sampai pada ingatan tentang aku.

Kenang, dalam doa-doa yang nyawa nya tinggal separuh. Di sepertiga malam yang larut, angin kencang, dan bintang yang kerlap kerlip. Semoga kamu tetap tampan, dengan balutan sweater yang menghangatkanmu, walaupun pendingin ruangan tetap menyala dari pagi hingga pagi lagi.

Malam ini tulisanku tidak banyak, hanya pengenalan agar kamu teringat. Atau boleh mengingat-ingat, aku ini apa, dan siapa bagimu. Mungkin hanya sekedar masa lalu, atau sekedar perempuan yang kehilangan jam tidur demi selalu memikirkanmu.

-Arum Mewangi, untuk Kenang Alamsyah

2;

Hari ini aku berencana untuk meniadakan pertemuan kita pada mimpiku. Tapi nihil, lagi-lagi kamu datang dan mempertemukan kita disana. Mimpi yang kuharap hanya tentang menonton live music kesukaan, berakhir menjadi rindu berkepanjangan.

Kenang,

Hari ini aku pergi ke toko buku. Membeli 2 buku dengan judul yang berbeda. Aku ingat kita pernah pergi kesana, melewati banyak toko kelontong, menemukan banyak permen warna-warni, membeli eskrim yang ternyata harganya sangat mahal, dan membeli 4 buku yang sudah 3 kali kubaca berulang.

Untuk tetap mengukuhkan perasaan aku, aku tetap memujamu lewat kata-kata sebagaimana yang aku bisa dan semampuku. Semoga kamu tidak lelah ketika aku selalu membicarakanmu pada sepasang senja dan pagi hari yang membuat mataku sembab. Karena aku tertidur dengan kesepian dan terbangun dengan kerinduan. Begitu bertahun-tahun kulakukan, semoga kamu mampu memahami.

Kenang, kotak musik yang kau bawakan untukku, yang kau beli oleh sepasang orang tua yang dengan bahagia meyambutmu untuk membelinya, masih kusimpan rapat-rapat. Sesekali ku buka hanya untuk menemukan kenangan mu disana, atau mendengarkan suaranya hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Terima kasih kenang, aku akan tetap memanggilmu lewat kecemasan ku ini.

3;

Ini adalah surat terakhir yang kutulis untukmu.

Di hari selasa, pada waktu yang sulit untuk aku tebak. Mungkin sekitar waktu petang? Saat semua orang masuk ke rumah. Saat semua orang memilih berkumpul, saat aku tetap kehilangan mu.

Untuk saat ini, doa-doa ku panjang sekali. Duduk terhuyung menitikkan air mata. Banyak sesal yang ku pelajari dari pada kepergian mu. Banyak luka yang ku obati daripada kehilangan mu. Mungkin bagimu itu bukan masalah besar, bagimu semuanya tetap berpusat pada bagian-bagian yang hilang.

Kenang, semua orang memilih lupa, dan aku sendiri masih terus mengingat-ingat. Saat kita makan nasi padang pinggir jalan, dan saat motormu kehabisan bensin di tengah perjalanan. Aku masih ingat bahkan hal kecil yang tengah berusaha ku lupakan, mungkin kamu bahkan tak payah mengingatnya, karena kamu bahkan sudah lupa ada aku.

Kenang, terima kasih telah menjadi harap yang aku hidupi pada sepasang bola mataku, dan secarik senyumku. Tiada hal yang mampu membuatku merasa dicintai selain tentangmu.

Terima kasih sudah ada, kenang. Terima kasih walaupun tidak pernah kembali lagi.

-Arum Menwangi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top