
Di selasar aku termangu, memandang bulan yang terangnya mencair di bibir pantai, angin melipat-lipat ombak dan menghantamkannya diantara karang, aku bertanya : tidakkah semestinya semesta memastikan keindahan tidak sepenuhnya untuk oktober? – Heran. Buih-buih hanya mendesis, dan angin laut menumbangkan dedaunan kering. Tidak ada jawaban yang memuaskan.
Malam semakin dingin, aku menggigil, tapi gagal untuk tidak berangan-angan. Aku pulang, telanjang kaki menjamahi pasir yang bercampur kenangan, kenangan manusia-manusia yang juga mencari jawaban sebelum aku atau manusia-manusia yang menghabiskan malamnya dengan bernyanyi dan bercerita.
Malam berkisar tujuh menit lagi, dan isi kepalaku masih berisik, lagu pengantar tidur hampir satu jam berputar, aku tetap bertanya-tanya : tidakkah semestinya semesta memastikan keindahan tidak sepenuhnya untuk oktober? Aku membuka tutupan selimut dimuka, bertatapan dengan langit-langit kamarku, dengan sedikit berkedip; Seisi ruanganku seperti memperhatikan manusia yang kelabakan ini, lukisan kuda yang berlari menjadi seperti jalan, lampu tidurnya semakin redup dan sinis, dan gelas air putih yang lupa ku tutup menguap terbosan-bosan.
Aku beranjak bangun. Musik pengantar tidur, ku ganti, ku putar playlist nat king cole – L-O-V-E etc. Aku membuka pintu roof yang tepat kearah pantai, angin ber- hembus menyebak rambutku — masihkah ada rembulan yang sinarnya mencair di bibir pantai ? Sayangnya pohon kelapa menutupinya, menyisakan cahaya ranum dan bintang bintang. Aku membakar rokok, dan sekali lagi aku bertanya : Tidakkah semestinya semesta memastikan keindahan tidak sepenuhnya untuk oktober?
AC kamar ku matikan, ku ambil notebook dan aku duduk melanjutkan tulisan selepas sore tadi ketika langit memadukan biru langit dan jingga senja menjadi semesta yang keungu-unguan.
“akankah mataku luput dari keindahan pandang matamu yang tentram, yang setiap kali membuatku gagal untuk membacanya?
yang ku coba telusuri ketika gelas-gelas minum kita habis di teras bumi, yang coba kurekam lengkap dalam ingatanku selepas ku potret dirimu sepuasnya sehingga bisa ku baca berulang-ulang di rumah. Aku benci jam kereta yang tidak bisa kutawar, kala itu. Aku tidak bisa menikmati kopi, aku tidak panjang bercakap denganmu, dan ..
Rokok di asbak seperti tak bertuan, panjang abunya hampir setengah batang, aku keasikan menulis dan menjedanya sebentar, dari mengingat teras bumi aku jadi ingin melihat fotonya yang tersimpan, kutelusuri galeri gawaiku, rokokku sudah benar-benar redup dia telah sampai ajal, menyisakan busa filternya.
aku menemukan inspirasi baru, dan kututup gawaiku. kuambil air putih yang segera ku habiskan juga, sebelum akhirnya dia mengamuk menumpahi notebookku karena terbosan-bosan. Aku melanjutkan menulis.
“dan .. mengabadikan dokumentasi sebelum pulang menjadi hal wajib, untuk akhirnya aku mendapat arsip dirimu lagi, walau setelahnya aku harus berlomba dengan waktu untuk memenangan keberangkatan keretaku.
Sepanjang kereta melaju, deru hujan dan malam menutupi keindahan perjala- nan, tapi lagi pula aku tidak peduli, aku menunggu kamu, mengirim dokumentasi-dokumentasi tadi.
Jika aku terlatih blak-blakan, aku akan memujimu anggun sekali lagi, seperti ketika seluruh keberanian ku kerahkan menyebutmu manis ketika memotretmu di renda tirai hotel dan bonsai ..
Ternyata angin semakin jengah ia meniup mataku terus menerus lewat jendela yang terbuka, musik semakin entah tidak terdengar, mataku semakin berat, pulpenku mencoret notebookku tak beraturan, dan aku tidak ingat apa-apa lagi, hari sudah pagi aku terlelap di meja belajar dan notebookku tercoret pulpen yang bergerak sendiri.
Abdul Malik Fajar
Gunung Putri, 23 desember 2023