The good days dan the bad days layaknya dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah hubungan. Keduanya hadir membentuk dinamika dan mendorong perjalanan, karena pada dasarnya tidak ada hubungan yang benar-benar dipenuhi hari-hari baik—atau bahkan hari-hari buruk. Konflik dalam hubungan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan; kesalahpahaman; rasa lelah, serta dorongan emosional akan mewarnai relasi manusia yang dinamis—selalu dan pasti.
Perlu mendapat perhatian, baik konflik maupun cinta kasih pada dasarnya sama-sama mengambil peran yang krusial; seperti jantung dan paru-paru dalam organ tubuh manusia. Hari baik mendorong keterciptaan rasa aman; kebahagiaan; keyakinan; serta ketenangan. Sedangkan hari-hari buruk jika dikhidmati secara bijak dapat menciptakan pengalaman belajar dalam hal mendengarkan; memahami perspektif yang tidak sejalan; upaya pengendalian ego; serta tujuan untuk terus menuju pada satu visi misi yang sama. Oleh karenanya, dalam sebuah hubungan romansa, setiap “pasangan” perlu memiliki love map yang jelas.
Dalam teori John Gottman, love map memiliki fungsi yang cukup fundamental antar pasangan. Love map dalam gagasan Gottman mampu menavigasikan kondisi emosional, impian, ketakutan, visi misi, serta pengalaman hidup individu dalam sebuah hubungan. Menurut Gottman, jika individu memiliki love map yang kuat, maka ia cenderung mampu mengelola bad days, serta good days secara berimbang—hal tersebut benar-benar mempengaruhi kualitas hubungan.
Alih-alih menciptakan keterikatan tanpa tujuan, love map justru menciptakan hubungan yang dewasa—jelas dalam batas dan kenyataan. Batasan dalam hubungan bukan merupakan representasi keburukan. Secara teoritis, hubungan yang sehat bahkan memerlukan batas (boundaries) sekaligus penerimaan terhadap kenyataan (acceptance of reality). Batas dan penerimaan mendorong individu dalam suatu relasi tetap memiliki identitas, otonomi pribadi, serta kesejahteraan psikologis. Henry Cloud dan John Townsend melalui teori Boundaries menyatakan bahwa batas membantu pasangan untuk mengetahui tanggung jawab sekaligus kebutuhan masing-masing, menekan ketergantungan tanpa dasar, serta tekanan sepihak yang tidak realistis.
Batasan dalam hubungan bagi Gottman juga mampu menjadi alternatif treatment untuk menciptakan penerimaan terhadap realitas kehidupan yang dinamis. Batas bagi Gottman mampu melatih individu berpasangan untuk lebih jujur, menghargai, saling menghormati, serta bertahan terhadap berbagai tantangan kehidupan.
Toh pada dasarnya cinta adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya diuji ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi terutama ketika keadaan menjadi rumit dan menuntut kesabaran—termasuk batas dan kenyataan. “Love rests on no foundation. It is an endless ocean, with no beginning or end.”—Cinta tidak bertumpu pada dasar apa pun. Ini adalah lautan tanpa akhir, tanpa awal dan akhir (Jalaludin Rumi)”.
Sebagai lautan tanpa akhir, untuk mengarunginya manusia perlu menciptakan love mapnya masing-masing. Mulailah dengan selalu memelihara rasa ingin tahu terhadap pasangan; hal tersebut membantu seseorang untuk lebih mengenal karakter, tujuan hidup, serta kecocokan satu sama lain. Berupaya mendengarkan pasangan secara aktif, penuh perhatian, serta mencoba menciptakan waktu yang berkualitas juga bisa mengembangkan sisi love map itu sendiri. Berbicara serta berlaku jujur juga mampu mendorong keterciptaan empati yang baik dalam love map. Hakikatnya, love map selalu perihal komitmen untuk terus mengenal pasangan sepanjang perjalanan hubungan.
Tapi lagi-lagi, tidak ada yang benar-benar memahami cara kerja dan rumus kerja cinta. Namun disinilah intelektualitas harus bekerja—menjadi ruang logis untuk mengelola perasaan tanpa batas yang disebut? cinta. Erich Fromm dalam The Art of Loving menjelaskan bahwa mencintai adalah sebuah seni yang menuntut pengetahuan, kedewasaan, disiplin, dan tanggung jawab, bukan sekadar dorongan emosi. Jadi alih-alih hanya mengharapkan atau fokus pada the best days, kita juga harus bersiap untuk membuka ruang, agar kelak saat the bad days datang segalanya masih dapat mendapatkan sudut pandang yang jelas.
Sekali lagi, hubungan yang bertahan lama bukanlah hubungan yang selalu bersama setiap saat, melainkan hubungan yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan personal, romantisme, kedekatan sekaligus kebebasan. Sebab, cinta yang dewasa bukanlah penjara—melainkan ruang di mana dua orang tetap penuh sebagai diri sendiri tanpa kehilangan rasa saling memiliki.