Celah Teduh

Kalau Luka adalah Batas, Aku Sudah Kalah Sejak Awal

Refleksi Puitika
Evi Putrianti
I
Dunia,
—Andai ia punya urutan manusia favorit, seperti seorang kekasih yang menyebut nama pasangannya 1000 kali dalam sehari, aku cukup yakin mungkin sejak awal namaku sudah kalah, hilang; tidak diperhitungkan—
Bukan karena dunia benar-benar meninggalkanku, tapi karena luka menciptakan sekat (sementara dan bisa jadi dalam waktu yang kepalang lama) antara aku dan titik dunia. Ah… tempat di mana kita tinggal ini benar-benar panjang, benar-benar luas dan lebar; di dalamnya berisi keindahan, surga-neraka, orang-orang, entitas, gemerlap, kemarau, badai, pulau-pulau, kekayaan, kemiskinan, kehidupan serta kematian. Segalanya melebur dalam sebuah masa, zaman.
Alkisah, pada sebuah masa dan zaman itulah, lahir kembali dunia-dunia tak kasat mata bernama ‘luka’ dan ‘cinta’. Sebagian luka terlihat mata, sebagian lainnya hanya dapat dilihat oleh jiwa. Dan di sanalah aku, serta manusia lainnya menetap. Dunia yang gemerlap tidak dapat meraba, kami tenggelam—tidak mati; sedikit kehabisan napas.
Jika ada ‘luka’, lantas di mana ‘cinta’. Bagi mereka yang menderita, cinta berada pada sebuah janji yang tidak pernah pulang dengan tepat. Bagi mereka yang berkecukupan dan beruntung, cinta berada di ujung bibir—manis dan menjanjikan. Keduanya tentu bernilai, hanya saja tidak semuanya meraup dalam porsi yang sama.
II
Malam ini, dari dasar lautan yang gelap, aku berasumsi; aku ingin berpuisi; bersajak; meramu kata-kata, seperti rahib yang tidak pernah kehilangan minat. Aku bertasbih perihal jarak surga dan neraka, ku pilin mereka seolah aku sedang menghardik nestapa dan takdir yang terasa busuk juga sial. Jarak itu terasa mencekik, menelan bulat-bulat, menyakitkan—lantangku. Jarak dunia terasa bak orang patah hati bagi sebagian lainnya, utamanya bagi mereka yang kepalang babak belur oleh keadaan. Sedang surga? Mereka yang tenggelam, kehabisan napas; tidak benar-benar tahu rasanya.
III
Lebih sialnya lagi, mereka yang terluka tidak sempat berbenah, belum sanggup mendongakkan kepala. ‘Luka’ malah makin asyik menjadikan sebagian orang sibuk menjauh, terkadang kembali dengan separuh kekuatan, atau bahkan dengan kepala tertunduk. Bukan, bukan karena sepenuhnya mereka rapuh, tapi karena ada kebahagiaan yang seperti terbatas untuk sebagian saja.
Bicara luka? Jelas tidak perlu ku jelaskan definisi, jenis serta fungsinya, itu akan sia-sia. Jika harus disusun ulang dalam sebuah laporan atau kamus kosa-kata, aku khawatir harus menggunduli seluruh hutan di muka bumi ini. Toh ia sepertinya telah mengetuk pintu-pintu manusia, membentur langit dan celah-celah tanah, semuanya pernah merasakannya—kecil, besar, sangat besar.
Luka jiwa, sering kali terdengar seperti keluhan, rintihan putus asa, tidak serta mampu berubah jadi kekuatan, meski banyak motivator mengatakan ‘luka adalah bahan bakar terbaik untuk melesat jauh’, karena pada kenyataannya, ia bersifat menjegal. Ah… tapi setelah aku berhitung, menakar pada angka-angka dan kemungkinan. Aku gemetar! Bukan! Bukan karena keputusasaan. Tanganku… tanganku tidak dapat menampung segala kenyataan, bahwa ‘luka’ ternyata juga bersifat menumbuhkan. Kini, motivator-motivator itu bak penyihir dan peramal di mataku, dan mereka yang terluka bagaikan pejuang.
IV
Aku merenung, gelembung udara pecah di antara sisa nafasku yang tercekik. Aku meramu kenyataan bahwa banyak dari mereka yang lahir dari penampungan, rumah-rumah hampa, teriakan, kematian, kelaparan, kebisingan, hingga rongga-rongga ketidakmungkinan yang tumbuh sebagai sebenar-benarnya manusia.
Kadang dititik paling sunyi manusia, luka berhasil mencipta gelap yang paling terang, lebih hangat dan lebih lembut dari semua kesaksian suci. Mereka yang terluka, hidup sebagai pelindung, sebagai yang paling ringkih untuk menciptakan luka, hanya sialnya sukar lepas dari himpitan isi kepala.
V
Dunia, jika memang ada kebahagiaan yang terbatas untuk sebagian saja, bisakah aku masuk daftar penerimanya?
VI
Ya, begitulah.
Tidak semua hal di dunia ini dapat dikompromi, termasuk batas-batas dan kesempatan.
Tapi, kalau luka adalah batas, aku dan yang lainnya jelas sudah kalah sejak awal bukan?
Tapi layaknya paradoks kekuatan, luka justru menyimpan kebenaran yang tersembunyi: luka yang seharusnya melemahkan dapat menjadi sumber kekuatan.
Bayangkan, pada sebuah tanah retak di musim kering… permukaannya terlihat rusak, pecah dan tentu saja tak utuh. Menyedihkan? Tapi bagaimana jika dari celah itulah air hujan yang jatuh pertama kali dapat meresap, dari celah itu pula benih dapat tumbuh, dan kehidupan bermula.
Bayangkan, jika sebuah tulang patah—setelahnya, ia justru tumbuh lebih padat dan kuat dari sebelumnya. Lukanya jelas ada, tapi jejak yang ditinggalkan tidak lagi menjadi bentuk kelemahan, tetapi bukti bahwa ada jiwa dan tubuh yang belajar bertahan dan tumbuh dengan pelan.
Bayangkan, angin menerpa pohon yang kepalang tinggi bentuknya, angin jelas membuat segalanya tampak kacau dan liar. Tapi sayangnya, semakin angin menerpanya, akar pohon yang kuat semakin menarik diri lebih dalam—memompa energi yang tidak ia prediksi batasnya. ‘Luka’ adalah paradoks kehidupan, sesekali tampak seperti penghalang tapi juga mampu menjadi biang baru kehidupan.
Akhir kisah, pada dasarnya luka tetap luka, jelas menyakitkan. Tapi sesuatu itulah yang bisa jadi mengajarkan seberapa jauh aku, kamu, kita, mereka bisa melangkah. Tak ada batas pasti pada mereka yang utuh dan retak, tetaplah tubuh bagaimanapun kamu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top