Celah Teduh

Mental Crab: Kenapa Kita Sering Jadi ‘Kepiting’ Sadar dan Tanpa Sadar?

Pernahkah kamu merasa tidak nyaman melihat hidup seseorang dapat berkembang lebih cepat dan terlihat lebih “hebat” darimu(?). Padahal hakikatnya, itu tidak merugikanmu sama sekali. Fenomena tersebut sejalan dengan Social Comparison Theory, yang menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Sikap membandingkan diri tersebut dapat menimbulkan perasaan tertinggal pada individu. Hasilnya, ketika seseorang merasa tertinggal sebagian merespons dengan menarik orang lain ke bawah demi kepuasaan emosionalnya, alih-alih mendorong diri sendiri ke atas; agar dapat lebih bekerja keras—mereka lebih memilih jatuh dan kehilangan integritas perlahan (Leon Festinger, 1954).
Proses tarik menarik tersebut layaknya sekumpulan kepiting yang terjebak dalam ember, dengan salah satu kepiting yang mencoba keluar; tetapi kepiting-kepiting yang lain tetap berusaha untuk menjatuhkannya. Hasilnya? Tidak ada satupun kepiting yang berhasil keluar dan kembali hidup bebas; pola itu berulang, terjadi setiap kali kepiting berusaha maju. Dalam dunia psikologi, kondisi kepiting tersebut kemudian dikenal dengan istilah Crab Mentality (Muhammad Kevin Izulhaq, 2022). Crab Mentality merupakan analogi dari perilaku egois dan cemburu yang dialami seseorang terhadap kesuksesan orang lain. Crab Mentality membuat seseorang tidak mampu melihat potensi dirinya dan selalu merasa kurang, sehingga secara terus menerus membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap lebih mumpuni.
Menyedihkannya, Crab Mentality memegang prinsip, “Jika saya tidak dapat memiliki, orang lain juga tidak”. Sehingga orang dengan mental kepiting akan berusaha keras menjatuhkan orang yang ia anggap lawan dengan cara-cara tertentu. Kecenderungan individu atau kelompok dengan bertujuan menghambat kemajuan orang lain karena rasa iri, atau keinginan agar semua tetap berada pada posisi yang sama di tengah masyarakat yang semakin kompetitif dapat diyakini sebagai ancaman. Mental kepiting dalam budaya kolektivis Indonesia misalnya, memberikan andil penekanan tak tertulis agar antar individu dalam siklus sosial harus berkedudukan ” sama” demi menjaga harmoni kelompok; katanya.
Dalam praktik kolektivis di Indonesia, individu yang menonjol juga seringkali dianggap mengganggu keseimbangan. Ditambah lagi, sistem pendidikan dan kerja di Indonesia yang terlalu menekankan perbandingan (ranking, kuota, senioritas) dapat memperkuat mentalitas scarcity, di mana seolah kesuksesan orang lain otomatis mengurangi jatah kesuksesan kita. Sedang idealnya, kemajuan seseorang harusnya mampu menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.
Lantas sebenarnya apakah akar permasalahan dari fenomena mental kepiting? salah satu faktornya adalah adanya kondisi kelangkaan depresi atau perceived scarcity. Dalam fenomena perceived scarcity, seseorang percaya bahwa kesuksesan layaknya kue yang terbatas. Analogi yang muncul dalam kepalanya bagaikan “kesuksesan; kemajuan; kelebihan; keberuntungan orang lain akan menjadikan apa yang ia peroleh menjadi lebih sedikit”. Hal tersebut yang kemudian menciptakan stigma bahwa keberhasilan orang lain terasa bagaikan ancaman. Padahal kesuksesan bukan sebuah “kue”, kesuksesan tumbuh tanpa batas bagi tiap-tiap entitas. Sayangnya fenomena perceived scarcity di Indonesia rasanya semakin subur karena juga ada banyak orang memiliki identitas rapuh.
Individu dengan identitas yang rapuh, harga dirinya sangat dikontrol dan bergantung penuh pada posisi atau poros hidup orang lain. Mereka mudah sekali merasa terancam ketika orang lain terlihat lebih sukses; atau mengalami kenaikan value. Perubahan dalam diri orang lain benar-benar mempengaruhi cara mereka melihat diri mereka sendiri, menyedihkan bukan (?). Individu yang tidak dapat dinamis dengan sistem prestasi yang terlalu menekankan angka; ranking; senioritas; hierarki tanpa ruang kolaborasi, juga melanggengkan strukturalisasi mental crab secara kolektif— bukan hanya individual.
Tapi tahukah bahwa seseorang dapat memiliki kecenderungan crab mentality bukan karena mereka “jahat” secara alami, tetapi karena adanya pengaruh oleh berbagai faktor; termasuk psikologis, sosial, budaya dan lingkungan. Perbandingan sosial; ancaman terhadap harga diri; pengaruh lingkungan sosial; kurangnya empati dan kecerdasan emosional; budaya kompetisi yang tidak sehat; rendahnya rasa percaya diri; adanya rasa iri dan perbandingan diri; pengalaman gagal; atau trauma masa lalu menjadi beberapa hal yang mempengaruhi konsep kepemilikan crab mentality.
Lantas bagaimana caranya kita keluar dari jeratan fenomena “kepiting” yang mungkin terjadi baik disengaja ataupun tidak (?). Pada dasarnya, keluar dari siklus tidak menghargai diri; membenci kesempatan dan value orang lain; serta mengkerdilkan diri maupun lingkungan publik, dapat dimulai dari sebuah kesadaran kecil—bukan penghakiman. Kesadaran harus mampu membawa diri untuk megenali trigger yang dimiliki. Kira-kira saat merasa tidak nyaman melihat orang lain maju, refleksikan pada diri sendiri, “ini rasa iri yang wajar, atau sinyal bahwa ada sesuatu dalam hidup sendiri yang perlu dibenahi?”
Selanjutnya, praktikkan konsep abundance mindset, yaitu pandangan bahwa kesuksesan bukan kue yang terbatas. Keberhasilan yang dihasilkan orang lain sebagaimana besarnya tidak mengurangi peluang dan jatah kita. Ketiga, jadilah individu yang bijaksana, berhentilah menarik energi negatif. Jika hidup dalam lingkungan publik yang sudah terlanjur toxic, jangan ambil bagian sebagai kepiting yang menarik kepiting lain— itu merupakan upaya penyelamatan yang bijaksana.
Terakhir, penuhi diri dengan orang-orang yang genuinely dan berkualitas. Jadikan lingkunganmu penuh oleh orang-orang yang hangat dan penuh apresiasi, senantiasa merayakan pertumbuhan hidupmu, dan jadilah orang seperti itu untuk yang lain. Sebelum diskusi ini berakhir dalam sesi ini, sadarkah bahwa Crab Mentalitu memiliki celah(?). Sadarkah bahwa ember yang menampung kepiting-kepiting itu tidak pernah butuh tutup? karena kepitingnya sendiri yang saling menahan diri sendiri. Pertanyaannya bukan apakah kamu pernah ditarik turun, tapi: berani nggak kamu jadi yang pertama berhenti menarik?***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top