Celah Teduh

Beautiful Ghost

Deras air hujan yang turun lebih dari cukup untuk membuat orang yang berlalu lalang di Kota London menepi. Begitupun dengan seorang pemuda tampan bersurai coklat. Arthur Silas-nama pemuda tersebut juga langsung menepi ke trotoar di dekatnya. Sembari berlindung dari derasnya air hujan, dia mengelap tangannya dengan sapu tangan kecil yang dibawanya.

Harum minuman hangat dari sebuah cafe kecil di dekatnya menggugah perhatiannya. Dia termenung sesaat. Rasanya masuk ke cafe tersebut bukan pilihan buruk, terlebih angin mulai bertiup lebih kencang.

Dia melangkahkan kakinya memasuki cafe tersebut dan duduk di salah satu meja yang kosong. Tempat tersebut bisa dibilang cukup sepi. Hanya ada dua atau tiga pengunjung yang mungkin bernasib sama sepertinya. Menunggu hujan reda.

            Fokus pandangannya beralih ke seorang waitress yang mendekat ke arahnya.

“Cokelat panas,” pesannya singkat. Yang di-iyakan dengan anggukan kecil waitress tersebut. Sang waitress kemudian pergi. Meninggalkan Arthur yang berakhir fokus pada dunianya.

Beberapa menit kemudian waitress tersebut kembali datang membawa seporsi cokelat panas.

Thank you,” ucap Arthur. Pemuda tersebut kembali dalam dunianya–mengamati seisi cafe kecil dengan suasana yang cukup menyenangkan tersebut sambil menyesap cokelatnya.

Maniknya terus menyusuri seisi cafe tersebut. Di salah satu sudut, dia melihat seorang gadis yang membaca buku. Arthur tak mengerti apapun. Hanya satu hal yang ia tahu. Pandangan matanya enggan beralih dari gadis tersebut meski hanya sekejap. Gadis itu berambut cokelat seperti dirinya. Hanya saja sedikit kemerahan.

Wajahnya yang terkesan dingin. Matanya yang lebar. Mulutnya yang mungil. Surai coklat kemerahan sebahu yang halus-semuanya. Ah, apakah ia sedang dimabuk cinta sekarang?

Dia mengeluarkan sebuah kamera digital dengan hati-hati. Tentunya dia tak ingin disebut stalker karena memotret orang tanpa izin. Meski pada realitanya-itu yang terjadi.

Arthur masih tetap sibuk bersiap mengambil foto entah keberapa puluh kalinya saat pemuda itu mendadak tersadar. Gadis tersebut sudah tidak nampak di kamera digital miliknya. Meja tersebut kosong, bersih, tidak bertuan. Menghilang entah kemana.

Ia tersentak kaget. Mengedarkan pandangannya ke seisi cafe tersebut. Sayangnya nihil. Tidak ada tanda-tanda gadis tersebut di sana. Hanya dalam beberapa detik, ia menghilang. Kemana gerangankah perginya?

Pemuda itu beranjak dan berjalan pelan menuju meja yang gadis tersebut duduki. Ia masih mengedarkan pandangannya ke seisi cafe tersebut. Sangat aneh dan tidak masuk dalam logikanya. Agaknya, terlampau aneh jika gadis itu bisa menghilang dalam sekejap mata ketika ia masih tetap terfokus menjadikannya sebagai objek bidikan.

Jauh lebih aneh pula ketika tidak ada satupun waitress yang ada di dekat sana, tapi meja tersebut sudah bersih seketika tanpa adanya gelas serta alat makan yang baru digunakan. Hanya tertinggal satu sapu tangan putih dengan bordir berwarna merah – Irene Watson.

‘Apa sapu tangan itu miliknya? Irene Watson? Itukah namanya? Manis juga,’ dengan cepat, ia mengambil sapu tangan tersebut dan melangkahkan kaki ke arah kasir dekat pintu masuk. Kepalanya penuh-berisik dengan ribuan pertanyaan yang datang silih berganti.

Dengan sedikit ragu, Arthur bertanya dengan pelan, “Sir, apakah baru saja gadis yang duduk di meja sudut sebelah kiri dekat jendela tersebut keluar? Dia meninggalkan sebuah sapu tangan. Tahukah kau kemana arah perginya?”

 “Pelanggan di meja sudut kiri?” ulang kasir tersebut menyerngitkan kening. Ia melirik meja yang Arthur tunjuk sesaat. Lalu kembali menatap Arthur dan tersenyum kecil, “Apa maksud anda Tuan? Sedari tadi tidak ada pelanggan yang duduk di meja tersebut,”

“Tidak ada? Tapi aku melihatnya. Ada gadis berambut coklat kemerahan sebahu disana. Dan selang beberapa saat yang lalu dia menghilang,” balas Arthur. Ia merogoh kantong di dalam saku jasnya. Berniat menunjukkan foto yang barusan ia ambil ke kasir tersebut, “Aku bahkan memiliki fotonya, wait,”

Dan saat ia membuka kamera miliknya, perasaan aneh menyergap dadanya. Foto yang ia ambil muncul. Sayangnya, tidak ada seorang pun gadis yang terlihat duduk di meja sudut kiri. Meja tersebut memang kosong. Seperti tembus pandang.

“Aneh, kenapa tidak ada gadis itu, ya?” tanyanya keheranan. Ia membolak balikkan kameranya, beberapa kali menggeser foto yang satu ke foto yang lain. Dan hasilnya tetap sama. Tidak ada pelanggan di meja tersebut. Seperti halnya yang kasir tersebut ucapkan.

“Sudah kubilang kan, Tuan? Tidakkah Anda sedang berhalusinasi? Mungkin saja anda kedinginan karena terkena cuaca buruk tepat sebelum masuk kesini,”

“Aku. TIDAK. Berhalusinasi,” seru Arthur. Raut wajahnya terlihat kesal. Sambil berdecak kesal, ia merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah sapu tangan putih yang ia ambil barusan ke meja kasir, “Lihat? Dia bahkan meninggalkan ini,”

Sang kasir memungut sapu tangan putih tersebut. Saat ia membaca bordir merah yang tertera di atasnya, tangannya langsung gemetar dan beberapa peluh dingin muncul di dahinya secara mendadak, “E-e-eh….. I-Irene…. Watson?” ujarnya terbata-bata, dengan nada bergetar.

“Anda kenapa?” kali ini, Arthur merasa heran dengan perubahan sikap yang sangat mendadak tersebut, “apakah ada yang aneh?”

“I-Itu…. sebenarnya…..” sang kasir tergagap. Ia menelan ludahnya pelan. Panik dan takut terlihat jelas di raut wajahnya. Ia terdiam sesaat. Hingga akhirnya mulai membuka mulutnya,

“Tuan, tidakkah anda membaca surat kabar? Sekitar satu tahun yang lalu ada berita besar yang menggemparkan London terkait Ilmuwan Irene Watson,”

“Tidak. Aku baru kembali ke Inggris kemarin. Jadi ada apa dengan Irene Watson?”

“Dia adalah seorang ilmuwan muda. Sekitar satu tahun yang lalu. Ia bunuh diri di tempat ini, tepat di meja sudut kiri yang Tuan bicarakan dengan menenggak racun sianida. Para polisi dari Scotland Yard yang menyelidiki kasusnya berkata ia merasa frustasi dengan penelitiannya terkait obat ajaib yang bisa menghentikan usia, atau semacamnya. Mereka bilang itulah motif bunuh dirinya. Tapi saat itu, ada seorang detektif yang berkata ia tidak bunuh diri, melainkan dibunuh. Sayangnya, sang detektif itu hilang dan tidak pernah diketahui lagi dimana keberadaannya,”

“Itu kasus yang menggemparkan. Kami harus menutup cafe kami selama beberapa waktu dan baru mulai buka lagi sebulan kebelakang. Dan seperti yang kau lihat, itu banyak berefek ke tempat kami. Meskipun sudah memulai ulang, tapi keadaan kami tidak bisa kembali seperti semula,”

“Menarik. Lucu sekali seakan-akan aku bertemu dengan arwah penasaran di satu cafe yang perlahan sedang mengalami masa suramnya. Baiklah. Terima kasih atas ceritamu. Ini- ambillah pembayaranku ini,” ucap Arthur menyodorkan beberapa helai uang kertas senilai £50, “ambillah sisanya. Anggap saja sebagai tip karena telah membagikan sebuah cerita yang menyegarkanku,” dan tepat setelahnya, ia membereskan dirinya dan bergegas keluar.

Arthur keluar dari cafe tersebut dengan langkah kaki cepat. Hujan sudah reda sejak saat ia bercengkerama dengan sang kasir cafe tersebut. Jalanan yang ia lalui cukup sepi. Ia terus berjalan. Hingga di sebuah persimpangan, ia melihat arwah sang hantu sedang berdiri diam menatapnya. Yang hanya dibalas dengan seringai kecil di wajah tampannya.

“Seperti ada petualangan menarik yang harus kuselesaikan saat ini,”

Fin

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top