Celah Teduh

June 2026

Puisi

Yogyakarta Tanpamu

Fragmen I / Yogyakarta Kasih, sepasang mataku jatuh kepada hangat temaram kota, lampu jalan, bangku-bangku taman, andong, dan lalulalang pedestrian. Hampir lupa kusebutkan, ada juga bangunan tua yang berjajar, pertunjukan angklung dan tarian-tarian. Mataku berbinar, terpaku pada sudut kota ini semalam panjang. Aku melangkah berbungah, ku nikmati alunan musik keroncong dan riuh suara-suara, berjalan pelan […]

Puisi

Air bah

Halaman rumahku juga seisinya gersang, sunyi dan hampir seperti tanah mati aku mengidamkan bunga dan taman, barangkali sepaket dengan suara siur jangkrik dan denggung blentung sereda hujan. Dan kamu datang bagaikan rintik hujan yang mulai turun perlahan melepas sumuk dan menghapus keringat, seakan doa-doaku tercicil terkabul. Kurayakan hujan dan kurelakan kau menjamah seluruh tubuh, bibir,

Opini

Seni dan Kebebasannya: Haruskah Seni Selalu Independen dan Kritis?

Seni seringkali membawa nilai-nilai yang fenomenal, merespon kompleksitas paradigma dan situasi yang kemudian ditransmisikan secara multidimensi. Sehingga, setiap kali sebuah pertunjukan dipentaskan sebagai kritik kekuasaan, setiap kali karya ditampilkan di ruang korporasi, atau sebuah lagu diaransemen ulang untuk kepentingan publik, pertanyaan menggelitik terkait ‘di mana sebenarnya seni harus berdiri?’ muncul. Pada dasarnya, seni tidak memiliki

Scroll to Top