Beranda kami
Dari mereka untuk Celah Teduh
Baca juga
Air bah
Halaman rumahku juga seisinya gersang, sunyi dan hampir seperti tanah mati aku mengidamkan bunga dan taman, barangkali sepaket dengan suara siur jangkrik dan denggung blentung sereda hujan. Dan kamu datang bagaikan rintik hujan yang mulai turun perlahan melepas sumuk dan menghapus keringat, seakan doa-doaku tercicil terkabul. Kurayakan hujan dan kurelakan kau menjamah seluruh tubuh, bibir, dan punggungku, kuyup beserta aku; terbahak-bahak diantara sentuh dan pelukmu, juga basah yang mulai akrab, melembabkan berandaku yang diam-diam dia merembes menembus kontur tanahku yang gersang. Perlahan bunga dan taman yang mula malu-malu kini mulai
Yogyakarta Tanpamu
Fragmen I / Yogyakarta Kasih, sepasang mataku jatuh kepada hangat temaram kota, lampu jalan, bangku-bangku taman, andong, dan lalulalang pedestrian. Hampir lupa kusebutkan, ada juga bangunan tua yang berjajar, pertunjukan angklung dan tarian-tarian. Mataku berbinar, terpaku pada sudut kota ini semalam panjang. Aku melangkah berbungah, ku nikmati alunan musik keroncong dan riuh suara-suara, berjalan pelan melintasi malioboro dan berhenti di titik ‘0’ km yogyakarta, kapan kita bercerita disini menghabiskan hari bersama? Lengkap rasanya, bermotor melewati tugu jogja menggoncengmu dan menunggu lampu hijau di tontoni burung-burung yang berbaris di tiang listrik
Agenda bulanan
Publikasi Majalah Elektronik
Berita Musiman
Seni dan Kebebasannya: Haruskah Seni Selalu Independen dan Kritis?
Seni seringkali membawa nilai-nilai yang fenomenal, merespon kompleksitas paradigma dan