Beranda kami
Dari mereka untuk Celah Teduh
Baca juga
Air bah
Halaman rumahku juga seisinya gersang, sunyi dan hampir seperti tanah mati aku mengidamkan bunga dan taman, barangkali sepaket dengan suara siur jangkrik dan denggung blentung sereda hujan. Dan kamu datang bagaikan rintik hujan yang mulai turun perlahan melepas sumuk dan menghapus keringat, seakan doa-doaku tercicil terkabul. Kurayakan hujan dan kurelakan kau menjamah seluruh tubuh, bibir, dan punggungku, kuyup beserta aku; terbahak-bahak diantara sentuh dan pelukmu, juga basah yang mulai akrab, melembabkan berandaku yang diam-diam dia merembes menembus kontur tanahku yang gersang. Perlahan bunga dan taman yang mula malu-malu kini mulai
Yogyakarta Tanpamu
Fragmen I / Yogyakarta Kasih, sepasang mataku jatuh kepada hangat temaram kota, lampu jalan, bangku-bangku taman, andong, dan lalulalang pedestrian. Hampir lupa kusebutkan, ada juga bangunan tua yang berjajar, pertunjukan angklung dan tarian-tarian. Mataku berbinar, terpaku pada sudut kota ini semalam panjang. Aku melangkah berbungah, ku nikmati alunan musik keroncong dan riuh suara-suara, berjalan pelan melintasi malioboro dan berhenti di titik ‘0’ km yogyakarta, kapan kita bercerita disini menghabiskan hari bersama? Lengkap rasanya, bermotor melewati tugu jogja menggoncengmu dan menunggu lampu hijau di tontoni burung-burung yang berbaris di tiang listrik
Beautiful Ghost
Deras air hujan yang turun lebih dari cukup untuk membuat orang yang berlalu lalang di Kota London menepi. Begitupun dengan seorang pemuda tampan bersurai coklat. Arthur Silas-nama pemuda tersebut juga langsung menepi ke trotoar di dekatnya. Sembari berlindung dari derasnya air hujan, dia mengelap tangannya dengan sapu tangan kecil yang dibawanya. Harum minuman hangat dari sebuah cafe kecil di dekatnya menggugah perhatiannya. Dia termenung sesaat. Rasanya masuk ke cafe tersebut bukan pilihan buruk, terlebih angin mulai bertiup lebih kencang. Dia melangkahkan kakinya memasuki cafe tersebut dan duduk di salah satu
Senja Terakhir Berlabuh di Leiden
“Jadi … kapan kamu akan melamar Anjani, Damar? Ibu juga ingin bisa melihat pernikahanmu nanti.” “Iya Bu, sesegera mungkin Damar akan melamar Anjani, mungkin nanti setelah Damar sidang magister Bu” Itulah percakapanku dengan ibu melalui telepon tempo hari lalu. Entah mengapa seminggu ini ibu sering menelponku dan selalu saja menanyakan kapan aku akan melamar Anjani. Jujur saja, pertanyaan itu cukup mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Memang aku menyukai Anjani, tapi tidak secepat ini aku hendak melamarnya. Terlalu cepat bagiku untuk mengatakan bahwa aku akan melamar dia. Bahkan, perkenalanku dengan dia pun
Mental Crab: Kenapa Kita Sering Jadi ‘Kepiting’ Sadar dan Tanpa Sadar?
Pernahkah kamu merasa tidak nyaman melihat hidup seseorang dapat berkembang lebih cepat dan terlihat lebih “hebat” darimu(?). Padahal hakikatnya, itu tidak merugikanmu sama sekali. Fenomena tersebut sejalan dengan Social Comparison Theory, yang menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Sikap membandingkan diri tersebut dapat menimbulkan perasaan tertinggal pada individu. Hasilnya, ketika seseorang merasa tertinggal sebagian merespons dengan menarik orang lain ke bawah demi kepuasaan emosionalnya, alih-alih mendorong diri sendiri ke atas; agar dapat lebih bekerja keras—mereka lebih memilih jatuh dan kehilangan integritas perlahan
Bahasa sebagai Modal Simbolik: Membaca Ulang Kapasitas Warisan Tertua Manusia
Bahasa sebagai Modal Simbolik: Membaca Ulang Kapasitas Warisan Tertua Manusia Opini | Budaya & Seni Evi Putrianti Terdapat idiom yang diam-diam diyakini oleh sebagian orang terkait “mereka yang pendiam itu kuat, sementara yang banyak bicara itu lemah, atau kurang dapat mengontrol diri”. Anggapan tersebut dapat terasa bijak, tetapi pada satu sisi juga menimbulkan kekeliruan. Mengapa demikian? bahasa lisan (berbicara) merupakan salah satu kekuatan paling purba yang dimiliki manusia, jauh lebih tua daripada tulisan, jauh lebih tua daripada teknologi yang kita kenal hari ini. Melalui tradisi bahasa lisan Zaman Pleistosen 2,6
Agenda bulanan
Publikasi Majalah Elektronik
Berita Musiman
Ambisi Tinggi, Fokus Rapuh: Potret Mahasiswa dan Ilusi Prestasi
Pendidikan adalah salah satu aspek fundamental dalam kehidupan manusia (Taheri,
Kalau Luka adalah Batas, Aku Sudah Kalah Sejak Awal
Refleksi Puitika Evi Putrianti I Dunia, —Andai ia punya urutan