Celah Teduh

Ambisi Tinggi, Fokus Rapuh: Potret Mahasiswa dan Ilusi Prestasi

Pendidikan adalah salah satu aspek fundamental dalam kehidupan manusia
(Taheri, Nasiri, Moaddab, Nayebi, & Louyeh, 2015). Melalui pendidikan,
seseorang diharapkan mampu mendapatkan peningkatan kualitas hidup,
membangun keterampilannya, serta menjalani masa depannya dengan baik.
Dalam proses pengembangan kualitas personal lewat jenjang perguruan tinggi,
sayangnya terdapat tantangan dan rintangan yang perlu dihadapi oleh
mahasiswa sekaligus dosen dalam waktu bersamaan. Saat ini, ada banyak
kecenderungan bahkan trend terkait keinginan yang besar untuk meraih nilai
tinggi, tetapi tidak selalu diiringi dengan fokus dan kualitas usaha yang sepadan.
Ambisi akademik memang bukan sesuatu yang salah dalam ranah pendidikan,
utamanya perguruan tinggi. Ambisi mampu menciptakan kegigihan yang dapat
memprediksi keberhasilan sebuah prestasi. Kegigihan dapat didefinisikan sebagai
minat yang konsisten dan ketekunan yang bertujuan untuk mencapai suatu
tujuan tertentu yang bersifat jangka panjang (Duckworth & Gross, 2014).
Mahasiswa yang memiliki kegigihan sekaligus ambisi belajar dianggap lebih siap
menghadapi tantangan zaman dan dunia perguruan tinggi yang dinamis.
Kegigihan juga mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi
akademik (Schmidt, Fleckenstein, Retelsdorf, Eskreis-Winkler, & Möller, 2017;
Duckworth et al., 2007; Lee & Sohn, 2017; Strayhorn, 2013; Dweck, Walton, &
Cohen, 2014).
Namun sayangnya, ambisi yang tidak ditopang oleh kedisiplinan, ketekunan,
kecakapan pedagogik, sekaligus kejujuran intelektual, mampu berubah menjadi
sekadar hasrat untuk terlihat berhasil, tetapi tidak benar-benar menjadi mampu.
Mahasiswa yang memiliki ambisi untuk memperoleh nilai akademik tinggi,
namun tidak dibarengi dengan disiplin, telah menciptakan suatu orientasi tujuan
yang salah arah. Ambisi kosong dapat mengarahkan seseorang kepada kondisi
performance orientation, di mana keberhasilan diukur dari pengakuan eksternal,
bukan pertumbuhan internal.
Nilai semata-mata menjadi sebuah ilusi prestasi, serta semakin menegaskan
fenomena kerapuhan dalam sistem akademik. Akibatnya, individu menghindari
tantangan yang berisiko memperlihatkan kelemahan mereka. Sehingga perlu
sekali, dosen maupun mahasiswa membedakan performance goal orientation
atau sebuah keinginan untuk terlihat kompeten di mata orang lain, serta mastery

goal orientation, atau keinginan untuk benar-benar menguasai sesuatu (Dweck,
2006).
Lantas, siapa yang bertanggung jawab atas tumbuhnya ambisi narsistik yang
rapuh di kalangan mahasiswa dan dalam ekosistem pembelajaran? Jawabannya
tidak tunggal. Kerapuhan dalam sistematika akademik, menjadi pekerjaan rumah
bersama bagi seluruh sivitas akademika, baik mahasiswa, dosen serta sistem
akademik itu sendiri.
Perlu dibentuk paradigma agar mahasiswa tidak hobi mencari jalan paling
mudah, melalui upaya dosen menumbuhkan daya tahan dalam menghadapi
proses belajar mengajar yang harus semakin dinamis dan mendalam. Meskipun
memang konsep belajar yang mendalam membutuhkan waktu, dapat memantik
kebosanan, bahkan frustrasi pada mahasiswa dan dosen itu sendiri. Namun,
tantangan dalam pembelajaran mampu membentuk respons yang dapat
memperdalam usaha, bukan sekedar cara instan.
Dosen juga perlu adaptif terkait metode belajar, motivasi belajar, gaya belajar,
minat belajar, sikap serta kepribadian bawaan mahasiswa yang telah terbentuk
sejak lama. Lingkungan perguruan tinggi harus mampu mendorong terciptanya
paradigma “bagaimana saya memahami materi ini?”, “bagaimana saya mampu
mengembangkan skill diri?”, “bagaimana saya dapat adaptif dan membangun
relasi kerja sejak dini?”, bukan sekedar “bagaimana saya bisa tetap dapat nilai
bagus dengan usaha seminimal mungkin?”.
Dosen bersama lingkungan perguruan tinggi harus mampu merawat kemudahan
hasil belajar yang ditawarkan teknologi AI, serta budaya mahasiswa sebagai
proses pengembangan belajar yang lebih konstruktivistik, bukan hanya indikator
pendorong kerapuhan harga “nilai” akademik. Dosen perlu mengembalikan
mental pembelajar, bukan hanya mental pencari hasil. Mahasiswa harus
memperoleh dorongan agar dapat kembali fokus mengembangkan diri, baik
secara teoritis, praktik, pencapaian angka semata, keterampilan, serta sikap.
Sekali lagi, kritik ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak kita
semua melakukan refleksi. Jika mahasiswa terus mempertahankan pola ambisi
tanpa fokus dan usaha yang matang, maka mereka berisiko membawa kebiasaan
ini ke dunia kerja dan kehidupan nyata, di mana hasil tidak lagi bisa “diakali”.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: apakah kita ingin
sekadar terlihat pintar, atau benar-benar menjadi pribadi yang mampu? Karena

tanpa fokus, tanpa usaha yang sungguh-sungguh, nilai tinggi hanyalah
angka—bukan cerminan kualitas diri.

Daftar Pustaka
Taheri, M., Nasiri, E., Moaddab, F., Nayebi, N., & Louyeh, A. A. (2015). Strategies
to Improve Students’ Educational Achievement Motivation at Guilan University
of Medical Sciences. Research & Development in Medical Education, 4(2), 133-
139. doi: 10.15171/rdme.2015.024
Duckworth, A. & Gross, J. J. (2014). Self control and Grit: Related but Separable
Determinants of Success. Current Directions in Psychological Science, 23(5), 319-
325. doi: 10.1177/0963721414541462
Dweck, C. S., Walton, G. M., & Cohen, G. L. (2014). Academic Tenacity: Mindset
and Skills that Promote Long-Term Learning. USA: Bill & Melinda Gates
Foundation
Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit:
Perseverance And Passion for LongTerm Goals. Journal of Personality and Social
Psychology, 92, 1087– 1101. doi: 10.1037/0022- 3514.92.6.1087
Schmidt, F. T., Fleckenstein, J., Retelsdorf, J., Eskreis-Winkler, L., & Möller, J.
(2017). Measuring grit: A German validation and a domainspecific approach to
grit. European Journal of Psychological Assessment, 0(0), 1-12. doi:
10.1027/1015-5759/a000407

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top