Fragmen I / Yogyakarta
Kasih, sepasang mataku jatuh kepada hangat temaram kota,
lampu jalan, bangku-bangku taman, andong, dan lalulalang pedestrian.
Hampir lupa kusebutkan, ada juga bangunan tua yang berjajar,
pertunjukan angklung dan tarian-tarian. Mataku berbinar,
terpaku pada sudut kota ini semalam panjang.
Aku melangkah berbungah, ku nikmati alunan musik keroncong
dan riuh suara-suara, berjalan pelan melintasi malioboro
dan berhenti di titik ‘0’ km yogyakarta,
kapan kita bercerita disini menghabiskan hari bersama?
Lengkap rasanya, bermotor melewati tugu jogja
menggoncengmu dan menunggu lampu hijau
di tontoni burung-burung yang berbaris di tiang listrik mayor suryotomo,
lalu menikmati kopi jos dan jajan di alun-alun kidul berdua.
Fragmen II / Bantul
Kasih, seharusnya pagi ini kita berjalan mengelilingi bantul,
seru sekali hamparan sawah seluas pandang mata
dan di pematang terlihat sekumpulan petani mencangkul.
Angin sepoi-sepoi mengurai rambutku dan tercium aroma tanah basah
yang di hangati matahari, mengantarkanku menuju parangtritis
untuk menyapa gemercik ombak.
Aku berjalan tanpa alas pada bibir pantai,
memungut sebatang kayu, kepikiran menuliskan doa di halaman pasir
dan mengejawantahkannya di laut lepas,
biar doaku berenang bersama duyung-duyung,
menari-nari diantara terumbu karang,
dan menguap ke langit-langit dewa.
Kamu juga seharusnya melihat gumuk pasir dan duduk di ayunannya disini,
betapa riangnya kamu, sesekali aku bisa memotretmu diam- diam,
dan kita bergandengan menuju oase
berteduh dan meminum air degan.
Ternyata berhayal menguras tenaga dan air mata, kasih.
Lekaslah aku pulang, tapi sedikit lagi aku ingin bercerita,
melewati panggung krapyak tidak jauh ada soto daging yang enak sekali
di depan MA ali masum, ada iso babatnya yang manis dan kuah kaldunya,
seperti masakan ibu. Kita harus kesana.
Fragmen III / Gunung Kidul
Kasih, akankah lagi-lagi aku menangis melintasi hutan-hutan panjang
dengan jalan berkelok tanpamu? Sepanjang jalan hutan aku bernyanyi
menyusuri hawa dingin dan sepi. Rimbun hehijauan memelukku tenang,
suara siur serangga dan kicau burung balas berbalas.
Aku memasuki gerbang, ku jumpai pantai indrayanti, drini, sadranan, dan watulawang.
Air laut berwarna hijau tosca menabrak-nabrak karang,
mencipta buih-buih yang mendesis, aku berlari kecil
menuju lorong diantara dua batu yang dinamakan watulawang,
pasir menjamah kakiku dan aku menghadiahinya
jejak-jejak dibadan dan dimukanya.
Senja perlahan melukis cakrawala menjadi kemerah-merahan,
dan pulang kedekapan samudra bersamaan dengan pertunjukan siluet yang segera habis. Termangu aku duduk di tebing tinggi dan berandai andai bisa seperti
sukap yang memotong senja itu dan membungkusnya di amplop untuk alina(seno, 1986) gelap semakin akrab memelukku dan mencuri bayanganku perlahan.
Fragmen IV / Kulon Progo
Matahari terbit, fajar tiba(rendra, 1977) membangunkan pagi
dan merasuk diantara renda tirai kamarku di vilanne tumpeng,
mengemas malam dan bulan yang tutup, juga pertunjukan mimpiku.
Kita adalah perjalanan, kita adalah pertunjukan,
nyata dan mimpi yang terbuat darimu adalah keduanya, kasih.
Melintasi jalan curam yang semakin naik.
Aku ingin menjajaki sungai mudal yang biru,
aku ingin berteriak sekencang-kencangnya agar seluruh ruang
dan dinding tebing bergetar oleh suaraku, agar bergema menyentuhmu.
Nyaris sepanjang perjalanan, hujan meromantisasinya
dan memanipulasi airmata yang berselancar di pipiku.
Kala kabut setelah hujan sirna, di selasar aku akan mengabadikan
segala hal yang bisa ku ceritakan padamu. Nanti.
Fragmen V / Sleman
Sejalan dengan garis lurus imajiner yang di mulai dari selatan,
hingga berpulang pada ufuk timur. Surat ini ku tulis dalam kesejukan sleman,
dari tempat-tempat yang berbeda, yang jedanya ku kristalkan menjadi kata kata.
Aku mendapati tempat yang asik untuk kita bercengkrama,
bercerita hal-hal kecil yang kita ketika pulang mungkin tidak mengingat
apa topik pembicaraannya, hanya momennya tak terlupa,
persis seperti sabtu sore (reda, 2022).
Aku lupa nama tempatnya, tapi cafe ini ada di tepi sawah.
Satu tempat lain, toko buku akik, harum bukunya tercium
dan manis sekali suasananya, kamu pasti suka.
laufey menjadi playlist yang menemaniku menulis
dan cangkir teh menghangatkan kesendirianku.
Aku akan membacakannya kepada puncak merapi,
semoga kamu menerimanya dalam bentuk merpati
yang membisiki tidur panjangmu
dan balas surat ini dengan bunga bunga yang tumbuh.
1 Oktober 2023
Abdul Malik Fajar