Celah Teduh

Air bah

Halaman rumahku juga seisinya gersang, sunyi dan hampir seperti tanah mati

aku mengidamkan bunga dan taman, barangkali sepaket dengan suara siur jangkrik dan denggung blentung sereda hujan.

Dan kamu datang bagaikan rintik hujan yang mulai turun perlahan melepas sumuk dan menghapus keringat, seakan doa-doaku tercicil terkabul.

Kurayakan hujan dan kurelakan kau menjamah seluruh tubuh, bibir, dan punggungku, kuyup beserta aku; terbahak-bahak diantara sentuh dan pelukmu, juga basah yang mulai akrab, melembabkan berandaku yang diam-diam dia merembes menembus kontur tanahku yang gersang.

Perlahan bunga dan taman yang mula malu-malu kini mulai tak tau malu bertunas, bermekaran dan lebat merambah cepat menyerbak harum nan berbuah manis. Tak terelakan di atas kepalaku bunga-bunga itu mengakar menyerupa mahkota dan senyumku semakin lebar, selebar taman firdaus. 

Ku cium dan  ku cumbuhi kelopakmu, kudapati nectar yang berlimpah tanpa mengenal sore dan siang, aku hinggapi tangkaimu satu demi satu hingga pangkal, aku seperti lebah berbungah. dan hujanmu tetap menjadi berkat yang ku syukuri pagi dan malam.

Aku terus menari, menikmati hujan yang tak kudapati sebelumnya, bahkan aku lupa kapan terakhir kali tanah tandus ini mendapatkannya. Namun semakin lama, aku luput dan terbuai, panas mulai langka dan kehangatan nyaris musnah.

Tubuhku gigil dan dingin, engkau memelukku tapi aku gagal menemukan hangat, curahmu semakin besar, dan semakin besar; menjelma air bah, menjadikannya mengerikan meluluhlantakkan apa yang mula ku elu-elukan. aku ingin memintamu pergi dan berhenti begitupun aku ingin memintamu menetap dan terus disini. 

Aku tergopoh-gopoh kewalahan dan kehausan, juga aku menangis, nyawaku sudah datang di tenggorokan dan aku bias membedakan airmataku dan hujan. bunga dan taman di berandaku kuncup layu terlipat air, tak ada suara siur jangkrik dan denggung blentung, tersisa jeritanku, gemuruh dan guntur.

Kamu berubah menjadi banjir yang dasyat mengambangkan dan menghantam segalanya yang ada diseisi rumahku dan menjadinya porak-poranda, menyeret dan aku seok-seok didalamnya sampai sebelum aku mati.

Airbahnya kian surut, aku dengan pangkal nafasku, merindu gersang diatas puing puing. Dan hujanmu yang sirna, menyisakan kehancuran hebat. aku merangkak lapar, menata yang masih bisa, dan menguras segalanya tentangmu.

Akankah aku mampu?

Abdul Malik Fajar.

Jakarta, 11 Mei 2026

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top